Kasbon, tempo, dan shift kasir: menjaga arus kas toko
· 2 menit baca · Tim KasirOS
Omzet besar belum tentu berarti uang di laci. Tiga kebiasaan sederhana supaya kas, kasbon pelanggan, dan shift kasir selalu bisa dipertanggungjawabkan.
Warung langganan mengambil barang dulu dan membayar akhir pekan. Bengkel langganan membayar ban bulan depan. Kantor memesan nasi kotak dengan tempo 30 hari. Semua itu wajar, tetapi tanpa aturan yang jelas, omzet terlihat bagus sementara kas menipis.
Pisahkan omzet dari kas masuk
Transaksi Rp 1.000.000 yang dibayar Rp 400.000 berarti omzet Rp 1.000.000 tetapi kas masuk baru Rp 400.000. Laporan harian sebaiknya menampilkan keduanya, ditambah daftar kasbon dan tempo yang belum lunas beserta jatuh temponya.
Batasi siapa yang boleh kasbon
Kasbon wajar untuk pelanggan langganan yang sudah dikenal, tetapi tidak untuk pembeli umum. Tetapkan lewat level pelanggan: hanya level Langganan dan Korporat yang boleh bayar sebagian atau tempo, dengan jatuh tempo otomatis. Ingatkan pelanggan beberapa hari sebelum jatuh tempo, bukan setelah tagihan menumpuk.
Tutup shift dengan menghitung laci
Setiap kasir membuka shift dengan kas awal dan menutupnya dengan menghitung uang fisik. Uang yang seharusnya ada di laci adalah kas awal ditambah pembayaran tunai dikurangi kembalian; QRIS, kartu, transfer, dan e-wallet dicatat terpisah. Dengan pembayaran split (sebagian QRIS, sisanya tunai), pemisahan ini makin penting.
Selisih yang langsung terlihat hari itu jauh lebih mudah ditelusuri daripada selisih di akhir bulan.
KasirOS mencatat pembayaran sebagian, tempo, dan pelunasan per transaksi, memisahkan kas per metode bayar, dan menghitung selisih kas setiap shift ditutup.